Pelantikan pengurus bukan hanya seremonial, tetapi momentum spiritual. Begitu yang terasa kala mendengarkan nasihat dari Bapak Nurdin dalam pelantikan PR IPNU-IPPNU Ronowijayan, 8 Januari 2022. Banyak petuah yang menyentuh, menampar, sekaligus menyadarkan bahwa menjadi pelajar, penggerak, dan manusia biasa saja, tidak bisa lepas dari kebutuhan akan ilmu, keberkahan, dan arah hidup yang jelas.
Salah satu poin yang paling membekas adalah tentang kecerdasan ruhaniyah. Tidak semua kecerdasan diperoleh dari proses belajar secara langsung. Ada juga orang-orang yang menjadi cerdas karena hubungan batin dan spiritual yang kuat dengan orang-orang alim atau guru yang bijak.
Bagaimana caranya? Sederhana, tapi dalam:
- Mengenal guru atau tokoh alim dengan hati yang tulus
- Menghadiahkan surat Al-Fatihah dengan ikhlas, sebagai bentuk ikatan ruhaniyah
Ini bukan sekadar simbolis, tapi bentuk pengakuan bahwa ilmu dan keberkahan itu bisa mengalir melalui hubungan yang batiniah, bukan hanya logis.
"Al-barokah fil-harokah"
Keberkahan itu ada dalam pergerakan.
"Al-harokatu mubaarokun"
Bergerak adalah sumber keberkahan.
Dalam pergerakan, jangan sibuk menghitung materi. Berhentilah bertanya, “Apa yang saya dapatkan?” dan mulai bertanya, “Apa yang bisa saya berikan?” Ketika pikiran hanya tertuju pada uang dan untung-rugi, maka keikhlasan pelan-pelan akan terkikis.
Menjadi pemimpin pun bukan tentang duduk di atas, tapi bersedia berada di bawah untuk melayani.
"Imāmul qoumi khādimuhum"
“Pemimpin kaum adalah pelayan mereka”
Pemimpin sejati akan berdiri di depan untuk memberi arah, tapi juga akan kembali ke belakang untuk memastikan tak ada yang tertinggal.
Dalam setiap pergerakan, cinta adalah ruhnya. Tanpa cinta, semua hanya rutinitas dan kewajiban. Maka gerakkan hati terlebih dahulu, sebelum menggerakkan langkah kaki. Seperti kata Rabi’ah Al-Adawiyah:
“Ridha adalah melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang baik.”
Ridha bukan pasrah tanpa arah, tapi upaya melihat dengan jernih segala bentuk takdir, peran, dan ujian yang datang. Karena ketika hati sudah dipenuhi ridha, langkah akan terasa ringan, bahkan di jalan yang berat.
Lalu bagaimana dengan ilmu? Tentu kita tetap butuh belajar. Tapi belajar pun bisa membawa keberkahan, jika dilakukan dengan niat yang tepat. Ada beberapa tips membaca dan menyerap ilmu yang juga dibagikan oleh beliau:
- Bacalah! Sebagaimana perintah pertama dalam Islam, membaca adalah pintu pertama menuju cahaya. Bacalah bukan hanya fenomena (yang tampak), tapi juga nomena (yang tidak tampak).
- Hadirkan penulisnya dalam proses membaca. Bacalah buku sambil menghadiahkan Al-Fatihah kepada penulisnya, seolah kita mengundang ruh ilmunya hadir dalam pembacaan kita.
- Awali dengan basmalah, karena awal yang baik membawa kelapangan dalam pemahaman.
- Dan ingat, “Khoiru jaliisin bi jamaali kitaabun.” Artinya: “Sebaik-baiknya teman duduk adalah buku yang indah.”
Bapak Nurdin juga menekankan bahwa pergerakan yang hebat adalah yang pelan tapi pasti. Panik justru akan membuat separuh otak kita tidak bekerja. Maka tetaplah tenang, tetap sadar, tetap sadar arah.
Dan terakhir, beliau menyampaikan tiga cara untuk menjadi tinggi, dalam hal posisi, wawasan, maupun hikmah:
- Menanam pohon sendiri, merawatnya, dan menunggu hingga bisa dipanjat
- Naik ke pohon tinggi yang sudah ada
- Menumpang burung besar yang sedang terbang
Ketiganya punya proses masing-masing. Tapi semuanya memerlukan usaha, ketekunan, dan keberanian untuk memulai.
Catatan ini adalah pengingat,
bahwa dalam hidup, tidak semua hal harus cepat dan terang-terangan terlihat hasilnya.
Ada proses batin, ada jalan sunyi, ada ruang ikhlas yang tak banyak disorot.
Tapi justru di situlah kekuatan terbesar seorang pelajar dan penggerak bermula.
Bergeraklah. Meski pelan.Tapi tetaplah dalam keberkahan.
0 comments:
Posting Komentar