Untuk mendapatkan apa yang diinginkan, tentu ada harga yang harus dibayar.
Dan "harga" di sini tidak selalu soal materi—meski materi sering kali termasuk di dalamnya.
Hal sesederhana ingin jajan pun membutuhkan pengorbanan: harus merogoh dompet dan menyisihkan waktu untuk membelinya. Apalagi jika yang diinginkan adalah kesuksesan dan hidup yang mapan. Tentu perjuangannya jauh lebih panjang.
Setiap target yang kita tetapkan, akan selalu diiringi oleh pengorbanan.
Salah satu jalan umum menuju kesuksesan adalah pendidikan. Tapi menempuh pendidikan bukan perkara mudah.
Banyak yang jatuh bangun di tengah proses.
Ada yang secara ekonomi tercukupi, tapi motivasi belajar rendah.
Ada pula yang semangatnya tinggi, namun terhambat biaya.
Dan di sinilah banyak orang mulai sadar bahwa hidup memang tidak pernah sepenuhnya adil untuk semua orang.
Setelah pendidikan, perjuangan belum berakhir.
Ada tantangan baru bernama dunia kerja.
Mencari pekerjaan itu tidak semudah mengisi formulir dan menunggu panggilan. Apalagi di kota-kota besar, persaingan datang dari berbagai penjuru negeri. Dan ya, tidak jarang proses seleksi dipengaruhi oleh “siapa yang dikenal”, bukan “seberapa layak seseorang”.
Itu realita.
Dan di tengah semua itu, pengangguran masih menjadi masalah besar yang belum terpecahkan.
Jumlah sumber daya manusianya banyak, tapi lapangan pekerjaan masih terbatas. Maka, generasi muda tidak cukup hanya mengandalkan pencarian kerja. Kita perlu meningkatkan kualitas diri, dan bila memungkinkan—belajar menciptakan lapangan kerja sendiri. Agar tidak hanya bertahan, tapi juga memberi manfaat.
Setelah mendapat pekerjaan pun, tugas belum selesai.
Bersyukur atas pekerjaan yang ada adalah kunci. Di era sekarang, mendapatkan tempat kerja yang nyaman dan sesuai keinginan bukan hal mudah. Maka, kesabaran sangat diperlukan. Begitu juga soal keuangan—terutama bagi yang baru merasakan gaji pertama.
Self reward? Boleh. Bahkan penting untuk menghargai diri sendiri.
Tapi jangan sampai kebablasan.
Belajar mengontrol pengeluaran, menyisihkan tabungan, dan memikirkan masa depan tetap harus jadi prioritas.
Karena pada akhirnya, hidup bukan sekadar tentang mencapai tujuan—tapi tentang bagaimana cara kita menjalaninya.
Dengan sadar, dengan sabar, dan tetap waras.
0 comments:
Posting Komentar