Seribu Alasan untuk Berbeda, Berjuta Alasan untuk Saling Mengerti –Harmoni
Hidup di tengah masyarakat berarti hidup bersama banyak kepala dan beragam pola pikir. Opini datang dari berbagai arah, dan tidak jarang saling bertolak belakang. Kalau semua orang selalu sejalan dan seirama, mungkin kata "diskusi" atau "musyawarah" tidak akan pernah ada. Bahkan dalam satu kepala pun, ego dan hati kita sendiri kadang tidak akur.
Lalu, bagaimana menyikapinya?
Kuncinya: punya prinsip dan pegangan hidup.
Kita memang tidak bisa memaksa orang lain untuk memahami cara berpikir kita. Tapi, kita masih bisa belajar mengendalikan diri untuk memahami perspektif mereka terlebih dahulu.
Bagaimana caranya?
Mulailah dengan menjadi pendengar yang baik. Dengarkan baik-baik apa maksud dan sudut pandang mereka. Jika dirasa itu membawa kebaikan, maka tak ada salahnya kita mengikuti. Tapi jika terasa kurang tepat, kita bisa memberi masukan secara perlahan, tetap dengan cara yang sopan, tidak menyinggung, dan tetap menghargai pendapat lain.
Apakah semua orang bisa seperti ini?
Tentu tidak. Kalau semua bisa, mungkin dunia akan jauh lebih tenang dan minim drama. Tapi akan sangat berharga jika kita bisa menjadi bagian dari mereka yang berusaha bersikap dewasa dan terbuka.
Intinya: belajar untuk legowo, tenang, dan bijaksana.
Itu untuk urusan dengan orang lain.
Tapi, bagaimana jika konfliknya justru terjadi antara logika dan hati kita sendiri? Apakah lebih mudah?
Tentu tidak juga.
Tidak ada pilihan yang benar-benar mudah. Dan hampir semua pilihan datang dengan konsekuensinya masing-masing. Maka, hal pertama yang perlu dilakukan saat dihadapkan dengan dilema adalah: tenangkan diri.
Ketika pikiran dan hati sedang "ribut besar", emosi pasti campur aduk. Maka tenang dulu. Setelah itu, pikirkan baik-baik resiko dari setiap pilihan. Coba ajak nalarmu bicara. Kadang harus naik-turun dulu untuk menemukan titik tengah.
Akhirnya, semua akan mengerucut pada satu hal:
Belajar untuk mengenali dan memahami diri sendiri.
0 comments:
Posting Komentar