Setiap orang punya rintangannya sendiri. Namun, ketika melihat kisah orang lain yang latar belakang dan perjuangannya hampir serupa, wajar jika muncul harapan: “Mungkin, kisahku juga bisa berakhir seperti itu.”
Lalu datanglah satu nasihat dari seorang teman:
“Kalau bisa, bermimpilah tentang sesuatu yang bisa kamu genggam. Tidak perlu terlalu jauh.”
Kalimat yang singkat, tapi lahir dari pengalaman panjang. Ia tahu rasanya menggantungkan harapan terlalu tinggi, hanya untuk kemudian dijatuhkan oleh kenyataan. Ia pernah berada di titik di mana mimpi sudah dekat, tapi justru dihadang oleh berbagai penolakan. Dan dari luka itu, ia hanya ingin orang lain tak merasakan sakit yang sama.
Tapi kenyataannya, tidak semua harap mudah dilepaskan.
Ada mimpi yang tetap bertahan, bahkan di tengah rintangan yang datang silih berganti. Ada harapan yang terus tumbuh meski tertutup oleh logika. Karena keyakinan itu... belum benar-benar padam.
Jika rintangannya datang dari luar, mungkin masih bisa ditepis dengan keyakinan dan usaha. Tapi ketika yang menghalangi justru orang-orang terdekat jalan terasa jauh lebih sulit.
Mengejar mimpi tanpa restu mereka bukanlah hal yang ringan. Karena ridho orang tua bukan sekadar formalitas, tapi bagian dari ketenangan dan keberkahan dalam perjalanan hidup. Dan ketika restu itu belum berpihak, seseorang bisa merasa benar-benar kehilangan arah.
Sebenarnya, hati sudah sejak lama dilatih untuk tidak berharap terlalu tinggi. Sudah ada usaha untuk lebih realistis, lebih membumi, bahkan bersiap jika mimpi itu hanya akan menjadi angan.
Tapi kenyataannya, tidak semudah itu menenangkan hati yang masih menyimpan harap.
Dan mungkin memang tidak semua mimpi harus digenggam erat-erat. Namun jika masih ada ruang untuk berjuang, tanpa harus mengorbankan prinsip dan nilai yang diyakini maka langkah sekecil apa pun tetap layak untuk dicoba.
0 comments:
Posting Komentar